Mengharumkan Kembali Aroma Kemenyan

 ​Jakarta

Jalur Rempah mulai mencari simpul kejayaan Nusantara masa lalu. Salah satu rempah itu adalah kemenyan. Pada artikel ini, saya akan membahas rempah kemenyan arena saya mengalami suka-duka menjadi anak petani kemenyan. Karena suka duka itu, dengan posisi saya sebagai Tim Ahli Cagar Budaya Humbang Hasundutan dan Tapanuli Utara, saya selalu mengenalkan kemenyan untuk didiskusikan lebih mendalam supaya mendapat perhatian.

Melalui sanggar yang saya bina, juga telah dibuat beberapa karya yang terinspirasi dari kemenyan. Publikasi media berupa esai dan video dokumenter juga telah saya buat. Hal ini sudah menjadi bagian dari mimpi saya: mengharumkan lagi aroma kemenyan. Karena itu, ketika pihak Jalur Rempah dari Kemendikbud menghubungi saya (10/12/2023)untuk membantu mereka dalam membuat kajian ringan tentang kemenyan, saya sangat antusias.

Menurut saya, kemenyan adalah masa depan masyarakat Indonesia. Sudah jamak diketahui, kemenyan pada masa klasik sangat berpengaruh. Bersama kapur barus, kemenyan sudah sampai ke Eropa dan Mesir. Diproyeksi mulai terjadi 2500 sebelum Masehi (temuan Tumanggor, 2017; 2019), kemenyan sudah diperdagangkan pada Cina, Eropa, dan Arab di Tapanuli.

Jaringan perdagangan ini kemudian melahirkan pertukaran budaya dan bahasa Nusantara. Malah, satu endemik Tapanuli itu, yaitu kapur barus menjadi satu-satunya kosakata dari Nusantara yang masuk ke dalam bahasa Alquran (Bahrum Saleh, 2020). Selain itu, besar juga kemungkinan bahwa kemenyan yang dipersembahkan orang timur pada bayi Yesus berasal dari Nusantara. Memang, belum ada data yang sahih tentang apakah kemenyan itu berasal dari daerah Tapanuli. Namun, merujuk pada berbagai data, kemenyan adalah pohon endemik Nusantara.

Titik Menarik


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari akun Jalur Rempah RI, kemenyan tumbuh di daerah beriklim lembab seperti Sumatera. Dilansir dari laman yang sama, selain menjadi yang terbaik karena memiliki kandungan 30-40 senyawa, produksi kemenyan yang terbanyak adalah dari Toba. Nah, dari wilayah inilah peradaban berkembang. Titik Nol Islam Nusantara, misalnya, berasal dari daerah Barus. Barus sebagai daerah Tapanuli tentu tidak serta-merta begitu saja menjadi salah satu poros peradaban.

Terpilihnya Barus sebagai labuhan perdagangan pasti karena ada alasan penting dan vital. Nyatanya, alasannya adalah keberadaan rempah endemik dari Tapanuli, yaitu kapur barus dan kemenyan. Sampai di titik ini, rasanya kita tak bisa membantah betapa jalur rempah kemenyan dan kapur barus sangat berpengaruh di Nusantara.

Sangat mudah membuktikan keberpengaruhan tersebut. Pasalnya, andai saja rempah endemik berupa kemenyan dan kapur barus, juga damar tidak ada, mustahil Barus menjadi poros perdagangan, bukan? Nah, yang jauh lebih menarik, jalur rempah di Barus tidak bermula dari masa kolonial. Artinya, jalur rempah Barus dapat dipisahkan dengan jalur kolonialisme. Sebab, jauh sebelum Eropa menikmati aroma rempah Nusantara dengan membawa paham kolonialisme, Barus sudah menjadi titik yang menarik perhatian.

Dilansir dari kemdikbud.go.id, dalam sebuah teks kuno abad ke-7 tertulis bahwa pada abad ke-12 di Barus terdapat sebuah gereja dan biara Mesir. Sementara itu, pada abad ke-9, Barus didatangi oleh orang-orang Fansur (orang Timur Tengah, Persia, dan India). Mari sejenak berimajinasi terkait biara dan gereja Mesir. Imajinasi ini akan membawa kita pada situasi masa silam di mana saat itu Mesir merupakan salah satu pusat imperium.

Pada masa itu pula, Mesir sangat dekat dengan budaya kemenyan. Dan, pada saat yang sama juga, kemenyan terbaik berasal dari Nusantara, yaitu dari Tapanuli. Nah, adanya gereja dan biara Mesir menyemburatkan satu hal, yaitu Mesir pernah bertemu secara tak langsung dengan Tapanuli melalui jalur rempah. Ini terkait dengan budaya Mesir yang suka dengan wewangian serta pembalseman sosok penting (mumi). Mesir adalah pengembang pertama budaya wewangian (parfum). Awalnya, parfum merupakan benda ritual keagamaan. Hanya para imam dan segelintir orang kaya yang boleh menggunakannya untuk upacara-upacara spiritual.

Pembauran Budaya

Bangsa Mesir percaya, selain bisa menjaga kulit mayat tetap sehalus sutra, parfumlah yang menyertai roh naik ke surga. Mereka menaruh banyak parfum di makam-makam firaun. Yang paling terkenal adalah makam Raja Tutankhamen, di mana botol-botol parfum mengelilinginya. Berabad-abad setelah itu, aroma wangi parfumnya masih bisa tercium ketika makam itu dibuka. Perlu ditegaskan, pada waktu itu, kemenyan merupakan tanaman bahan parfum paling favorit. Faktanya, seperti dikemukakan di atas, kemenyan terbaik berasal dari Tapanuli.

Dalam lajur berpikir seperti inilah kita bisa mengerti mengapa Barus menjadi sangat populer pada masa silam dan terdapat jejak Mesir di sana. Hipotesis pun menguat bahwa kemenyan sebagai simbol kesembuhan dan kendaraan menuju surgalah yang menarik mereka datang berlayar hingga ke Barus. Betapa tidak? Berdasarkan catatan-catatan hieroglif dan artefak-artefak di makam para firaun, dupa sudah mulai masuk Mesir sekitar 3000 SM. Bahan baku dupa adalah kemenyan. Tradisi wewangian ini berkembang menjadi sebuah kemewahan. Simbol kecantikan kuno sebelum Cleopatra, yaitu Ratu Nefertiti, selalu membawa beragam parfum.

Pada proses selanjutnya, orang-orang Yunani dan Romawi menyukai parfum Mesir. Yunani mendapatkan parfum Mesir melalui perdagangan antara Pulau Kreta dan Mesir. Pasar kemenyan pun mengalami titik terbaiknya. Kemenyan disejajarkan dengan emas dan mur sebagai persembahan dari Timur untuk bayi Yesus, Sang Mesias bagi Nasrani. Maka, jangan terkejut jika Barus dan Batak berbaur budaya. Dengan mudah, kita bisa menemukan bukti pembauran kebudayaan itu melalui pendekatan bahasa sebagaimana dituangkan Rusmin Tumanggor dalam seminar “Diseminasi Penelitian Bahasa dan Sastra Sumut” (BBSU, 9 Juli 2021).

Pembauran itu dapat dilacak pada mantra-mantra pengobatan orang Batak yang mengadopsi semua bahasa keagamaan yang masuk tersebut, mulai dari agama Hindu, Kong Hu Chu, Islam, Kristen, bahkan Yahudi. Dari bahasa agama Ru sebagai cikal-bakal agama Kong Hu Cu, misalnya, ada mantra yang berbunyi: Hong, ulosi aha on songon Tumbaga Huling, palua sahitna, hipashon imana. Mantra itu diawali dengan bahasa Ru dan dilanjutkan dengan bahasa Batak. Kurang lebih artinya: Hong, sematkan ulos ini seperti Tumbaga Huling, lepaskan penyakitnya, sembuhkan tubuhnya.

Mencegah Bencana

Di samping bahasa keagamaan tersebut, artefak kebudayaan sebagai bukti bahwa Tapanuli menjadi salah satu poros perdagangan juga banyak ditemukan. Keramik dan piring yang yang berasal dari abad ke-8 sampai ke-9 dan ditemukan di sekitaran dan di situs Lobu Tua membuktikan pedagang dari Tiongkok dan Arab pernah datang ke Barus sejak lama. Prasasti lain pun masih banyak, seperti Tamil dan Varuca. Kemungkinan jejak peradaban lain pun masih sangat besar. Dengan lamanya berbaur, sudah tak terbantahkan lagi bahwa Tapanuli dikunjungi masyarakat internasional sebagai bukti keberpengaruhan jalur rempah.

Namun, saat ini, jalur rempah yang membuat Tapanuli kaya akan pengalaman kebudayaan mulai sepi. Kejayaan kita pada hasil endemik itu sudah mulai punah. Kawasan hutan kemenyan mulai terusik dengan kerusakan yang dilakukan korporasi. Hasil panen berkurang drastis sampai 4.000 ton (Kompas, 13/12/2023) meski menurut Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Kementerian Perdagangan, Marolop Nainggolan, sekitar 80 persen produksi kemenyan berasal dari Sumatera Utara, tepatnya tentu saja daerah Tapanuli (2021). Untuk itu, menjadi tantangan bagi kita dalam mengharumkan kembali aroma kemenyan.

Dalam hal ini, perlu penyuluhan kepada petani kemenyan agar hasil panen dibuat menjadi produk olahan sebagai bagian dari hilirisasi. Hal ini mendesak karena tren penurunan petani kemenyan dan alih fungsi hutan kemenyan semakin tinggi. Alih fungsi hutan ini akhirnya tidak hanya membuat panen merosot, tetapi juga membuat daerah Tapanuli menjadi darurat bencana. Jadi, marilah kembali mengharumkan aroma kemenyan supaya alam tetap lestari! Dengan mengharumakan kembali aroma kemenyan, setidaknya kita bisa mencegah bencana alam yang mulai jamak di kawasan Danau Toba!

Riduan Situmorang mahasiswa Pascasarjana IAKN Tapanuli Utara, TACB Humbang Hasundutan, Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Doloksanggul-Humbang Hasundutan, Guru Pengajar Praktik PGP Humbang Hasundutan, Koordinator P2G Humbang Hasundutan

(mmu/mmu) 

Updated: Januari 5, 2024 — 8:00 am

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *